Keluh Kesah Manusia... The Natural Instinct

Jumat pagi, istri saya Ummu Amal mengajak Max mengunjungi kantor BCA untuk mengganti nomer mobile banking yang bermasalah. Tentu saja kunjungan seperti ini harus direncanakan matang sebab kalau datang terlambat, antrian di meja Customer Service bakal mengular hingga ke nomer sekian. Jadi, sejak sehari sebelumnya, semua dipersiapkan. KTP, kartu ATM, catatan, motor, isi bensinnya, termasuk uang saku.


www.verywellfamily.com


Akhirnya Umma Amal dan Max berangkat pagi-pagi sekali. Mungkin setengah tujuh pagi sudah berangkat, dengan harapan mendapat nomer antrian awal. Mudah-mudahan demikian, dalam hati saya juga berharap. Namun, karena saya work at home, saya cuma say goodbye saja dari rumah dan segera melanjutkan kegiatan saya.


Sekitar jam 10 pagi, suara berisik motor yamaha mio yang sistem pulley-nya sedang sangat bermasalah memecah keheningan halaman rumah kami. Rupanya Ummu Amal dan Max sudah pulang.


Rupanya Ummu Amal sedikit kesal dengan sikap Max sepanjang pagi saat ikut serta ke kantor BCA. Max mengeluh bosan karena lama menunggu dan mengesankan kepada semua orang bahwa ia menyesal ikut serta pagi itu.


Karena penasaran, saya bertanya kepada Max: "Tadi ngapain aja di BCA?"


"Bosen, duduk thok..." jawabnya pendek dengan logat campuran jawa barat dan jawa timuran.


"Sudah makan?"


"Sudah, tadi makan soto ayam."


"Lah, kok yang diceritakan cuma bosennya, makan enaknya nggak?" Tanya saya.


"Tapi kan bosen ba, nggak bisa maen." sahut Max dengan polosnya.


"Begitulah nak manusia. Banyak mengeluhnya dari pada bersyukurnya," saya memulai memberi nasihat kepadanya.


"Meski tadi andhok makan soto ayam yang enak itu, tetap saja yang diceritakan adalah bosennya, bukan enaknya soto ayam itu. Iya kan?"


Max mendengarkan ucapanku dengan seksama.


"Jadi, lain kali, ingat-ingatlah terus yang enak-enak, lalu bersyukur. Sebab orang yang bersyukur, hatinya akan lapang dan tidak sedih terus."


"Kalau yang kamu ingat bosennya, capeknya, ribetnya... Ya sedih terus kamu."


Demikianlah memang manusia itu, bahkan insting keluh kesahnya sudah muncul dan mendominasi sejak dini.


Maka benarlah Al-Quran mendeskripsikan manusia itu dengan sifat keluh kesahnya yang tak ketulungan.


إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) سورة المعارج


"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat." Surah Al-Ma'arij 19-22.


Apa kemudian sifat ini mesti kita maklumi karena sudah menjadi insting dasar


Tentu tidak.


Sebab yang disampaikan oleh Al-Qur'an adalah mengendalikannya dengan pola-pola pembiasaan kebaikan yang diringkas di akhir rangkaian ayat-ayat di atas dengan keyword sederhana: Al-Mushallin... Orang-orang yang shalat.


Perkara shalat adalah perkara yang kita kenal sejak masa kanak-kanak, namun manfaatnya hanya diketahui bagi yang mengkaji Al-Qur'an dengan baik dan membandingkannya dengan pengalaman yang ia dapatkan saat shalat.


Shalat bukanlah sekedar takbir, rukuk dan sujud semata. Tapi lebih jauh lagi, shalat adalah alat komunikasi kita dengan Allah, sarana kedekatan paling intens dari diri kita dengan Al-Khaliq.


Jika rukuk dalam shalat menggambarkan ketundukan dan kerendahan, maka sujud menggambarkan penghambaan total, atau lebih tegasnya perbudakan total! Tapi, perbudakan yang kita banggakan. Sebab diperbudak Allah Ta'ala jelas adalah kemuliaan, sedang diperbudak hawa nafsu dan makhluq adalah kehinaan dan ketidakwarasan!


Barulah kemudian kita kaji lagi ayat-ayat selanjutnya tentang siapa mereka yang dimaksud dengan Al-Mushallin itu yang secara ringkas Al-Qur'an menyebutkan ciri-ciri mereka, yaitu:


  • Yang kontinyu shalat
  • Yang mengeluarkan bagian hartanya untuk yang tak berpunya
  • Yang membenarkan adanya hari akhir
  • Yang takut kepada adzab Allah
  • Yang memelihara kemaluannya
  • Yang memelihara amanat dan menunaikan janji
  • Yang bersaksi dengan jujur
  • Yang selalu menjaga shalat


Well, PR saya jelas cukup banyak dalam mendidik buah hati. Meski begitu, saya berharap kita bisa sama-sama mengarahkan anak-anak kita dengan pendidikan Al-Quran seperti ini, yang dengannya bolehlah kita berharap mereka bisa menjadi pribadi-pribadi tangguh di masa yang akan datang, yang jiwanya terbebas dari cengkeraman putus asa, kesedihan dan kecengengan sikap.


Wallahul muwaffiq



Catatan:

Andhok: makan di warung/depot/restoran alias dine in.

ba: kependekan dari Baba yang diambil dari kata Abati (Ayahku), panggilan Ismail Alaihissalam kepada ayahnya Ibrahim Alaihissalam.

No comments:

Post a Comment

Terbaru

recentposts

Sementara Itu

randomposts